Jumat, 19 Juli 2019

KOPI, NGOPI DAN TEATER KITA HARI INI



KOPI
Asal-usul kopi masih menjadi perdebatan. Sebagian menyebutkan bahwa kopi berasal dari Etiopia, sebagian lagi percaya bahwa kopi berasal dari Yaman. Setiap daerah memiliki mitos dan legenda kopi masing-masing.
Dalam legenda Etiopia, kopi pertama ditemukan oleh seorang penggembala kambing—bernama Kaldi—yang kebetulan menemukan semak yang menghasilkan buah berwarna merah. Buah tersebut dipercaya mampu memberikan efek penambah tenaga. Biji buah tersebut kemudian diberikan pada seorang biarawan. Pemberian ini tidak disambut dengan baik, malah dibalas dengan hinaan. Tapi aroma hasil sangrai bijih buah itu mampu menarik perhatian sang biarawan, dan dianggap mampu mendukung prosesi doa karena membuat mereka tetap terjaga[i].
Sementara oleh masyarakat Yaman, kopi dipercaya merupakan hasil penemuan tokoh sufi bernama Ghothul Akbar Nooruddin Abu al-Hasan al-Shadhili. Al-Shadhili mengamati seekor burung yang tenaganya bertambah akibat memakan buah bunn. Sang sufi kemudian mencobanya dan menemuka efek yang sama. Dalam legenda Yaman lain tanaman kopi ditemukan oleh Sheikh Omari.
Efek kopi dalam kedua legenda tersebut ternyata didukung pula oleh hasil studi ilmiah. Kopi diketahui mampu meningkatkan laju detak jantung, meningkatkan perhatian, pemikiran dan aktivitas[ii]. Dalam studi yang dirilis dalam The Journal of Nutrition Nutritional Epidemiology, diketahui bahwa kafein—zat yang terkandung dalam kopi—mampu meningkatkan kemampuan kognitif global, memori verbal dan meningkatkan perhatian[iii]. Kemampuan kognitif global adalah kemampuan manusia dalam berfikir secara kritis, menggunakannya secara efektif dan tajam. Sementara memori verbal adalah memori yang berkaitan dengan kemampuan psikologis dalam mengelola kata dan Bahasa.

NGOPI
Sebenarnya kata Ngopi tidaklah tepat, sesuai dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata yang tepat untuk menunjukkan aktivitas meminum kopi adalah mengopi. Tapi bukankah Bahasa sangat longgar dan berkembang sesuai dengan perkembangan perilaku berbahasa kita? Maka kita lupakan saja sejenak kesalahan jamak itu.
Maka bagi para pengopi—penggemar kopi—akhir-akhir ini merupakan surga. Warung-kafe kopi menjamur di hampir semua daerah, baik itu di kota besar maupun kecil. Hal itu bisa diduga—sedikit atau banyak—merupakan efek dari box officenya film Filosofi Kopi. Selain permintaan kopi yang tinggi, daya tarik bisnis kedai kopi juga didorong dari margin keuntungan yang cukup besar. Rata-rata margin keuntungan dari kedai kopi mencapai 35-40 persen dari total penjualan. Sementara tingkat konsumsi kopi masyarakat Indonesia terus meningkat. Pada pada tahun 2017 konsumsi kopi sekitar 1,2 kg per kapita, sedangkan pada tahun 2018 meningkat menjadi sekitar 1,4-1,5 kg per kapita[iv].
Dulu, minum kopi hanya dilakukan secara sederhana, hanya dengan menyeduh kopi bubuk dengan air panas saja. Lalu muncul kebiasaan menikmati kopi baru dengan Teknik pengolahan dan penyajian kopi yang sangat beragam sambil bercengkrama bersama kawan di warung kopi, dan kini kebiasaan tersebut telah naik tingkat, dengan menyesap sajian kopi yang diracik oleh barista di coffee shop. Coffee shop didesain dengan dekorasi yang menarik dan instagramable serta membuat pembelinya merasa nyaman seakan di rumah. Bahkan, tak jarang banyak yang berkunjung ke coffee shop untuk menyelesaikan pekerjaan, karena kedai kopi dirasa mampu meningkatkan produktivitas[v].
Hubungan kopi dan kreativitas cukup erat. Voltaire—penulis besar Perancis—diketahui meminum kopi sekitar 50 gelas per hari. Honore de Balzac—novelis dan penulis naskah drama Perancis—meminum sebanyak 50 gelas kopi selama 14 jam proses penulisannya per hari. Balzac mengklaim bahwa kopi dibutuhkan dalam proses penulisannya[vi]. Beberapa tokoh lain yang juga merupakan penyandu kopi adalah Beethoven, Sartre dan Mahler.
Bahkan di Paris, Perancis ada satu kafe yang sangat terkenal sebagai tempat kreatif seniman-seniman besar, yaitu Les Deux Magots. Jean Paul Sartre dan Simone De Beauvoir sering menghabiskan waktu di kafe tersebut sambil menikmati kopi. Mereka sering berdiskusi tentang isu-isu eksistensialis atau isu-isu hangat saat itu. Bahkan katanya dua orang ini sampai punya meja atau spot khusus yang mereka gunakan untuk menulis setiap hari. Di sana juga sesekali Sartre bertemu dengan Ernest Hemmingway dan berbincang dengannya. Tokoh lain diantara adalah Albert Camus—penulis The Myth of Sisyphus—, Boris Vian, James Joyce, Bertold Brecht—tokoh teater epik—, Stefan Sweig Verlaine, Rimbaud, Mallarmé, dan Picasso sering mengunjungi kafe tersebut. Picasso bahkan disebut-sebut membuat kubisme di tempat tersebut[vii].

TEATER KITA HARI INI
Coffee shop sekarang ini adalah sebuah teater sosial. “Dunia ketiga” yang merupakan tempat lain selain rumah dan tempat kerja tempat realitas sosial berlangsung. Terjadi peningkatan jumlah pemanfaatan coffee shop untuk perkantoran dan aktivitas kreatif. Hal ini merupakan akibat dari penambahan dekorasi yang menarik dan fasilitas internet gratis melalui wifi yang memberikan dukungan pada konektvitas melampaui dinding kafe[viii].
Kehidupan teater—mungkin juga seni secara umum—memang sejak dulu sangat dekat dengan kopi. Setiap aktivitas teater selalu ada kopi.
Rapat-rapat produksi maupun artistik, juga sekedar berbincang mengenai isu-isu kesenian terkini juga semakin meningkat intensitasnya di warung kopi. Diskusi-diskusi tematik mulai digelar di beberapa kota, misalnya Sinau Teater (Malang), Demam Teater (Surabaya) dan MASTER (Malang). Diskusi-diskusi ini secara “lepas” juga dilakukan pula oleh komunitas-komunitas lain, terutama oleh seniman Sastra.
Pemanfaatan ruang coffee shop sebagai sebuah ruang diskusi teater tentu memberikan perubahan suasana yang menyenangkan. Terutama dalam kondisi minimnya ruang publik kesenian seperti gedung pertunjukan, kemunculan coffee shop tentu menjadi alternatif yang menguntungkan. Beberapa diskusi bahkan didukung pula oleh pemilik kafe, misalnya diskusi-diskusi dan pementaan sederhana yang diselenggarakan di Omah_co di Jalan Mayjend Panjaitan, Malang.
Ketersediaan fasilitas coffee shop seperti wifi tentu saja memiliki dua dimensi; kemudahan akses informasi atau godaan untuk game. Itulah persoalan yang penting dikritisi. Seniman-seniman teater banyak menyerbu coffee shop hanya untuk mendapatkan akses pada game. Hal ini kontraproduktif. Setidaknya itu yang sering nampak akhir-akhir ini. Kalaupun ada obrolan, seringkali yang menjadi topik pembicaraannya bukanlah isu-isu kesenian yang sedang hangat, tapi seringkali hanya persoalan yang remeh.
Memang masih ada komunitas-komunitas teater yang terus melakukan diskusi-diskusi mengenai teater, tapi kecenderungan untuk “memindahkan diklat” juga besar. Seringkali senior-sesepuh teater dalam forum itu berperan seperti empu-empu suci yang hanya memberikan petuah satu arah. Ruang kelas hanya dipindahkan ke coffee shop. Pola diskusi hirarkis ini rasanya sudah tidak perlu dilakukan. Pola diskusi tanpa poros perlu dilakukan sebagai cara untuk keluar dari hirarki guru-murid, tapi semua orang yang terlibat dalam diskusi adalah narasumber.  Formalisme dalam dunia seni hanya akan membuatnya mandul.
Kalaupun ada diksusi dengan tema yang konstruktif (bukan sekedar memindahkan materi diklat teater), seringkali hanya membentur tembok coffee shop. Ide-ide kreatif membentur kemalasan, dan akhirnya kalah. Keterbatasan personil, fasilitas dan pendanaan yang membuat seakan kemalasan itu menjadi pseudo­-benar. Tapi sejatinya itu jelas sebuah kesalahan. Ide-ide kreatif, yang telah didorong oleh kafein, tetap harus dibuktikan. Itulah bentuk eksistensi seniman. Sebab bicara hanya urusan pembual.
Membincangkan teater di ruang publik seperti coffee shop harusnya dipandang sebagai sebuah usaha untuk mengenalkan teater ke publik ramai. Pengenalan inilah yang selama ini diabaikan oleh seniman teater. Mereka cenderung “introvert” dan merasa eksklusif. Padahal upaya memuji-muji kehebatan karya seninya itu sejatinya adalah upaya melipur lara kesepiannya. Pertumbuhan jumlah penonton teater cenderung sangat lambat sehingga sama sekali tidak menarik bagi pihak lain untuk membantu, misalnya dalam pendanaan. Pertemuan antara seniman teater dengan khalayak umum, termasuk calon penonton, calon investor/sponsor dan pihak pemerintah di ruang coffee shop tentu harus dimanfaatkan dengan optimal untuk perkembangan teater itu sendiri. Kesempatan ini tentu hanya omong-kosong bagi seniman teater yang ke coffee shop hanya untuk mencari wifi dan diskusi yang remeh-temeh.
Maka, aktivitas ngopi sebagai sebuah pertunjukan teater perlu kita perindah dengan adegan-adegan kesuksesan teater untuk kembali menjadi primadona di tengah masyarakat. Kecuali, bila teater diisi oleh para pemalas dan pecandu game saja.

Malang, 19 Juli 2019

REFERENSI


[i] Lindsey Goodwin. 2019. The Origin of Coffee. https://www.thespruceeats.com/the-origin-of-coffee-765180
[ii] Eugene Y. Chana & Sam J. Magliob. 2019. Coffee cues elevate arousal and reduce level of construal. Consciousness and Cognition 70: 57–69.
[iii] May A. Beydoun, Alyssa A. Gamaldo, Hind A. Beydoun, Toshiko Tanaka, Katherine L. Tucker, Sameera A. Talegawkar, Luigi Ferrucci, dan Alan B. Zonderman. 2014. Caffeine and Alcohol Intakes and Overall Nutrient Adequacy Are Associated with Longitudinal Cognitive Performance among U.S. Adults1–3. The Journal of Nutrition Nutritional Epidemiology: 890-901. https://academic.oup.com/jn/article-abstract/144/6/890/4615979
[iv] Ringkang Gumiwang. 2018. Ramai-ramai Merambah Bisnis Kedai Kopi. https://tirto.id/cHPS
[v] Fenomena ‘Demam’ Coffee Shop di Indonesia. https://kumparan.com/@kumparanfood/fenomena-mewabahnya-demam-coffee-shop-di-indonesia
[vi] Daniel Ochoa. 2016. Can Coffee Boost Creativity? http://www.brainrewired.com/can-coffee-boost-creativity/
[vii] Kopi Keling. 2014. Les Deux Magots – Dari Sartre Hingga Picasso. http://kopikeliling.com/news/cafe-les-deux-magots-dari-sartre-hingga-picasso.html
[viii] Grzegorz Micek. 2016. Understanding Innovation in Emerging Economic Spaces: Global and Local Actors, Networks and Embeddedness. Routledge. New York.

Jumat, 03 Mei 2019

PENTAS MONETER #2 DAN RUANG KOSONG



Sebuah keberuntungan menikmati tiga pertunjukan teater dalam satu malam. Begitulah rasanya yang didapatkan oleh penonton Pentas Moneter #2 yang digelar olah Teater Pelangi, Universitas Negeri Malang. Pentas yang digelar tepat pada peringatan hari buruh internasional itu menyajikan naskah Membaca Tanda-Tanda (Rachman Sabur), Kembang Mawar (N. Riantiarno) dan Bunga Tidur (adaptasi puisi Widji Thukul).

Hanya saja, dinginnya kota Malang pada malam itu tidak didukung oleh kehangatan yang menyenangkan sebab tersisa ruang-ruang kosong dalam setiap pertunjukan.

MEMBACA TANDA RACHMAN SABUR
Rachman Sabur dikenal dari aktivitas berkeseniannya bersama dengan Teater Payung Hitam di Bandung. Bersama dengan Teater Payung Hitam, Rachman Sabur mengembangkan pola liris dalam karya-karyanya. Naskah-naskah Rahman Sabur cenderung irit kata dan cenderung memiliki banyak lambang visual, auditif dan kinetik. Hal inilah mengapa penggarapan naskah Rachman Sabur memerlukan pemahaman purna-teks. Sayangnya, di situlah ruang kosong pemanggungan naskah Membaca Tanda-Tanda oleh Teater Pelangi.
Teks tidak diperlakukan sebagaimana mestinya. 

Dialog-dialog tokoh disampaikan justru dengan gaya deklamasi yang membosankan. 

Dialog-dialog dilemparkan selayaknya sebagai puisi. Gestur aktor benar-benar telah mati di hampir seluruh pertunjukan. Teknik ini memang paling umum digunakan oleh para pembaca puisi. Mungkin sang aktor adalah pembaca puisi atau memang punya bakat menjadi pembaca puisi. Tapi sebagai seorang aktor teater, tentu saja itu tidak cukup.
Seorang aktor teater bukan hanya bermodal suara yang lantang, tapi juga harus mampu kemampuan dramatic dalam menyampaikan cerita. Terlebih, monolog memang memiliki tantangan keaktoran yang jauh lebih tinggi. Semua perhatian penonton akan hanya terpusat pada si aktor. Sebagaimana telah saya singgung tadi bahwa gestur aktor sama sekali mati. Dialog-dialog seperti keluar dari sebuah radio. Tentu saja sebagai radio, tidak ada gerakan antenna, apalagi gerakan tubuh radio. Belum lagi, blocking dan penguasaan ruang sangat minim.
Tapi sebagai sebuah sajian, sebenarnya pertunjukan pertama ini punya impresi pertama yang meyakinkan. Suara pertemuan antara palu dan batu cukup intens. Perwujudan kekerasan, baik dalam konteks penokohan maupun kerasnya hidup sang tokoh sangat terasa. Hanya saja, simbolisasi macam itu menjadi sirna pada adegan-adegan berikutnya. Ini sungguh dapat disayangkan.
Belum lagi persoalan busana yang tidak ada ikatan ruang tertentu, baik kultur maupun jaman tertentu. Bahkan, lebih ringan lagi, persoalan kebersihan busana yang digunakan juga cukup membuat konsepnya menjadi tidak menyatu. Rasanya dalam hal ini, observasi dan pendalaman lapangan sangat perlu dilakukan lebih serius.
Semua kekosongan itu diperparah dengan kekosongan musik. Memang ada musik yang mengalun sepanjang pertunjukan, tapi kosong saja. Musik, adegan dan aktor tidak menunjukkan dinamika yang dapat dipahami sebagai harmonisasi. Perubahan emosi dan adegan dibiarkan lepas dari musik. Maka tidak berlebihan bila terkesan bahwa para pemusik tidak secara tulus mendukung pertunjukan ini.

KEMBANG MAWAR YANG TIDAK SEMPAT BERKEMBANG
Sebagai sebuah kisah romantis, tentu harusnya pertunjukan Kembang Mawar ini bisa dengan mudah meraih simpati penonton. Tapi nyatanya tidak begitu yang terjadi.
Sejak kemunculan aktor untuk pertama kali, ada kelesuan di dalam tubuhnya. Ada keraguan yang tercermin dari dialog-dialog awal yang tidak bertenaga. Belum lagi sepanjang adegan-adegan awal, sang aktor lebih banyak menutup matanya. Hal ini sangat merugikan mengingat perlunya kontak mata antara aktor dan penonton. Kontak mata ini akan dengan mudah membantu menyalurkan emosi yang dipunyai aktor kepada penonton.
Tentu saja persoalannya bukan hanya itu. 

Berbeda dengan pertunjukan pertama yang terkesan seperti membaca puisi, pertunjukan kedua ini malah seperti orang yang membaca koran. 

Dialog-dialog emosional hanya disampaikan secara datar dan tanpa tangga dramatic sama sekali. Pola dialog monoton ini menyisakan ruang kosong antara aktor dan penonton, antara panggung dan ruang gelap.
Sang tokoh mencintai seorang perempuan, hanya saja tidak mampu mengungkapkannya. Setidaknya begitulah bila kita ringkas cerita naskah Kembang Mawar karya N. Riantirno itu. Hanya saja malam itu sama sekali tidak ada cinta yang memancar begitu dahsyat di mata sang aktor. Selanjutnya, tidak pula ada penyesalan yang terpancar dari seluruh tubuhnya.
Bahkan, tidak ada tafsir berbeda dari naskah. Pertunjukan itu hanya merekonstruksi naskah. Kekosongan proses kreatif itu membuat Kembang Mawar—yang begitu menawan, begitu menyimpan peluang penggarapan—menjadi tidak sempat berkembang.

KEKOSONGAN PUISI DAN TEATER
Sipon yang menderita karena harus menghadapi permasalahan akibat perbuatan suaminya itu lelap. Entah persifat imajiner atau nyata (karena tidak cukup ada perubahan suasana), lalu sang suami, Widji Thukul datang menghampirinya. Sang istri menumpahkan segala keluh kesahnya dan berharap suaminya itu pulang.
Adegan ini mengingatkan saya pada salah satu adegan dalam film Istirahtlah Kata-Kata yang disutradarai oleh Yosep Anggi Noen. Adegan itu terjadi di sebuah hotel, di sana Widji Thukul dan Istrinya bertemu secara sembunyi-sembunyi di tengah pelarian sang suami. Dialog-dialog di adegan itu cukup menunjukkan seorang Sipon secara utuh, baik sisi penderitaan maupun sisi ketegaran seorang istri dan Ibu. Sayangnya adegan dalam pertunjukan Teater Pelangi itu tidak mampu memberikan kedalaman yang sama.
Pertunjukan Bunga Tidur itu diadaptasi dari puisi Widji Thukul berjudul Baju Loak Sobek Pundaknya. Berikut isinya:

Baju Loak Sobek Pundaknya
siang tadi aku beli baju
harganya murah
harganya murah bojoku
di pedagang loak
di pedagang loak bojoku
pundaknya sedikit sobek
sedikit sobek bojoku
bisa dijahit tapi
nanti akan kubeli benang
akan kubeli jarum
untuk menjahit bajumu bojoku

untukmu bojoku
baju itu untukmu

tadi siang kucuci baju itu
kucuci bojoku

tapi aku bimbang
aku bimbang bojoku
kutitip ke kawan
atau kubawa sendiri
nanti kalau aku pulang
kalau aku pulang bojoku

karena sekarang aku buron
diburu penguasa
karena aku berorganisasi
karena aku berorganisasi bojoku

baju itu kulipat bojoku
di bawah bantal
tak ada setrika bojoku
tak ada setrika
agar tak lusuh
agar tak lusuh
karena baju ini untukmu bojoku

22 Januari 96

Puisi ini bercerita dari sudut pandang seorang Widji Thukul yang buronan, yang membelikan sebuah hadiah untuk istrinya. Dan betapa susahnya ia karena diburu oleh penguasa. Dalam pertunjukan Teater Pelangi digunakan sudut pandang sang istri. Tetapi proses alih wahana dari puisi menjadi pertunjukan teater itu cukup bermasalah karena sebenarnya tidak mempertahankan benang merah dari puisi. Terlalu banyak perubahan sehingga bahkan persoalan hadiah baju tidak muncul sama sekali di panggung. Sedikitnya ruang puisi yang dipindahkan ke dalam ruang pertunjukan membuat rasanya berlebihan bila ditulis “adaptasi” dan lebih tepat “terinspirasi.”
Kekosongan-kekosongan lain memperburuk situasi ini. Penggambaran seorang Widji Thukul, misalnya. Bagi yang pernah menyaksikan Widji Thukul lewat rekaman-rekaman video maupun hasil rekonstruksi dalam film Istirahatah Kata-Kata akan memahami secara umum ciri-cinya, yaitu cadel (kesulitan menyebut huruf r). Gaya pembacaan puisinyapun lantang sebagaimana kebiasaannya memberikan orasi dalam demo-demo. Dalam pertunjukan Teater Pelangi malam itu digambarkan bahwa Widji Thukul memakai penutup mata. Hal ini sepertinya merujuk pada kejadian pemukulan apparat keamanan pada mata Widji Thukul yang kemudian ditutup dengan kasa. Tapi ada kesalahan fatal yang terjadi, yaitu bahwa mata yang ditutup oleh Teater Pelangi adalah mata kiri, sementara Widji Thukul yang asli menutup mata kanannya. Kesalahan kecil macam ini tentu sangat disayangkan karena kemudahan akses informasi. Bahkan grafis-grafis Widji Thukul yang menutup matanya sangat sering digunakan dalam publikasi-publikasi.

Maka tidak berlebihan, bahwa di tengah keberuntungan Rabu malam itu, saya juga sedih. Sedih akibat kekosongan-kekosongan yang memisahkan saya dari kenikmatan total ketika menyaksikan pertunjukan teater. Tapi semua kekosongan itu bukanlah sebuah kesalahan mutlak, sehingga dengan mudah dapat diperbaiki dalam produksi-produksi selanjutnya. Dan saya akan sabar menunggu itu tiba.

Malang, 1 Mei 2019

Kamis, 11 April 2019

ARTIUM PARTHEA : TUMPUKAN BAHAN MENTAH


Bulan Maret adalah perayaan yang paling ditunggu-tunggu oleh seniman dan peminat teater, karena pada bulan ini diperingati Hari Teater Dunia. Sehingga sangat mudah ditemui acara-acara dan pentas teater yang digelar di berbagai belahan dunia, termasuk di Malang. UKM KUTUB merayakan hari ulang tahun teater dengan menggelar Artium Parthea.
Secara Bahasa, Artium dapat diterjemahkan sebagai seni, sementara Parthea sulit diterjemahkan. Kata yang kedua ini tidak dapat ditemukan dalam Bahasa-bahasa yang ada. Dalam beberapa kamus online, arti Parthea sama sekali tidak ditemukan. Tapi anggap saja ini adalah sebuah pesta teater, tempat dimana kaum teater berpesta dan saling apresiasi. Sayangnya, kita hanya disajikan bahan mentah. Mari kita bahas satu-persatu dari bahan-bahan yang disajikan mentah itu.

KITA DIPAKSA MENDENGAR IGAUAN
Setidaknya itulah yang saya rasakan ketika harus menonton pertunjukan Lost oleh Teater Lorong dari Madura. Panggung didesain dengan lokasi penonton berbentuk tapal kuda. Sebagaimana dipahami, penempatan penonton seperti ini akan sangat membantu penyaji menyampaikan pertunjukan dengan baik. Proses transfer berjalan dengan lebih optimal. Tapi sayang sekali itu tidak terjadi.

Pertunjukan Lost oleh Teater Lorong Madura


Sejak cahaya muncul, kita disuguhi sebuah instalasi di beberapa titik; kanvas dengan tulisan lost, level-level dan tumpukan boneka. Sekilas saja dapat ditebak bahwa penggarap pertunjukan ini sangat dekat dengan dunia seni rupa. Ketiga instalasi disusun dari sudut ke sudut. Beberapa saat kemudian muncullah seorang aktor dan mengajak seorang penonton untuk masuk ke panggung. Perempuan yang dipersilakan duduk ini mengikuti saja ajakan sang aktor.
Menarik memang bila kita menilik sebuah konsep teater dimana penonton menjadi bagian dari sebuah pertunjukan. Tentu konsep paling umum adalah pembuangan dinding ke empat sebagaimana umum digunakan dalam teater Indonesia. Tidak ada jarak antara pertunjukan dengan penonton. Ke-intim-an ini sungguh menggoda. Augusto Boal bahkan mengajukan sebuah konsep dimana penonton dapat menentukan kelanjutan pertunjukan yang digelar. Theatre of Oppressed, genre teater yang dikembangkan Boal, memberikan pengalaman yang sangat dekat dengan penontonnya. Dalam beberapa pertunjukan seni pertunjukan tradisional juga sering muncul interaksi antara penyaji dan penggarap. Sehingga sungguh menguntungkan apabila digunakan teknik ini.
Tapi, apabila kita menyimak pertunjukan Lost secara lebih jauh, kita patut kecewa. Pelibatan penonton sekedar basa-basi. Perempuan yang ditarik ke panggung menjadi benda mati, semacam properti panggung.
Belum lagi, mentahnya pertunjukan juga ditunjukkan dengan minimnya dinamika dialog. Kisah sedih hanya dilantunkan secara datar saja, seperti sebuah igauan. Belum lagi, apabila disimak dengan lebih jeli, terjadi perulangan-perulangan dialog yang tidak perlu. Hal ini terjadi, umumnya karena proses penyusunan dialog yang belum matang. Dengan pola monolog macam ini, maka jalannya pertunjukan menjadi sangat lambat, bahkan mungkin terlampau lambat dan membosankan. Komunikasi intim yang hendak dibangun sama sekali tidak terjalin. Kisah sedih yang disampaikan, meskipun sudah didukung dengan musik instrumentatif yang sendu, sama sekali tidak mampu mempengaruhi penonton secara lebih jauh. Belum lagi, Teknik blocking aktor tidak memberikan perhatian yang seimbang pada tiga sudut penonton. Inilah yang mematikan panggung tapal kuda.
Sementara di akhir, penonton disuguhi adegan melukis yang sangat lama dan membosankan. Aksi pembakaran lukisan di akhir pertunjukan juga gagal dilakukan. Maka, penonton rasanya belum disuguhi makanan matang yang enak.

KOLABORASI MENARIK TAPI MENTAH
Pertunjukan kedua adalah sebuah eksperimen kolaborasi antara teater dan fotografi. Sebuah usaha menarik untuk dikulik lebih jauh. Hanya saja, interaksi antara foto dan pertunjukan teater yang disajikan Mlasti dengan judul Swing It, sangat jelas tidak tersusun secara matang. Dialog, adegan, dan foto tidak menimbulkan sebuah pola yang dapat dipahami secara utuh. Dialog dilontarkan menimbulkan adegan-adegan, tapi foto yang disorotkan di background panggung tidak memberikan korelasi dengannya. Foto-foto itu tidak memiliki ikatan. Itu seperti sebuah reklame dengan berbagai kalimat provokatif, lalu tiba-tiba ditempeli foto caleg. Sebuah perpaduan yang belum menemukan harmoninya.
Kolaborasi antara foto dan pertunjukan harusnya memberikan perspektif yang menarik bagi penonton. Sebuah visualisasi yang memiliki kekuatan berlipat ganda. Hanya saja, penggabungan dua jenis seni ini dapat pula menjadi sebuah petaka bila proporsinya tidak dijaga. Penonton akan kebingungan menentukan focus dan pada akhirnya akan merugikan dalam penyampaian pesan dan cerita.
Teater, sebagai sebuah pertunjukan yang diselenggarakan secara langsung, maka tidak mungkin dilakukan perulangan “sempurna.” Sementara foto sangat bersifat reproduktif dan statis. Penggabungan dua ekspresi seni ini sebenarnya sudah dilakukan sejak berabad lalu. Pada tahun 1858 Sarah Bernardt telah menggunakan fotografi sebagai instrument penting dalam memanggungkan karyanya (Vanhaesebrouck, 2009). Sebuah foto mampu mengabadikan sebuah moment emosional yang dapat digunakan untuk meningkatkan efek sebuah pertunjukan. Sehingga foto di sini juga merupakan sebuah pertunjukan itu sendiri (Schneider, 2007).  Penggabungan dua jenis ekspresi ini sekaligus memberikan perpaduan yang menarik antara realitas dan ilusi.
Sayangnya, pertunjukan teater asal Blitar ini adalah pertunjukan yang belum selesai. Sebagaimana disampaikan oleh sang aktor, pertunjukan ini sejatinya masih dalam proses penyempurnaan. Keberadaan foto harusnya berjumlah cukup banyak untuk mendukung perubahan-perubahan dan jalannya adegan. Akan sangat menyenangkan menikmati hasil ”masakan”nya yang lebih matang nanti.

FRAGMEN TERFRAGMEN
Pertunjukan pamungkas yang disajikan oleh UKM KUTUB punya persoalan yang lebih rumit. Pertunjukan yang disadur dari sebuah puisi berjudul Jas Merah itu tidak menunjukkan sebuah cerita yang utuh. Kemunculan dua tokoh di atas panggung yang dipenuhi barang-barang itu terasa sangat dangkal. Sebagai sebuah cerita, penonton memang mudah sekali memahami bahwa seseorang telah diculik oleh pelaku seorang utusan presiden. Itu mudah sekali ditangkap, tetapi sebagai sebuah pertunjukan tentu itu saja tidak cukup. Percakapan dua tokoh itu tidak menghadirkan perdebatan yang menantang dan penuh lika-liku.
Pada awal pertunjukan, beberapa menit dijalankan secara begitu lambat. Tensi-tensi pertunjukan tidak dikelola. Karakter yang dibangun juga tidak menunjukkan kekuatannya. Hal ini diperparah dengan permainan elemen lain yang begitu minim. Musik, misalnya, tidak mampu memberikan dukungan suasana dan dinamika emosi adegan. Musik cenderung terpisah dari pertunjukan. Belum lagi, properti yang statis dan dekoratif semakin mengecilkan posisi dan kekuatan aktor. Belum lagi, penyusunan properti yang saling tumpang-tindih. Tentu ini sungguh merugikan.
Sebagai sebuah pertunjukan, Jas Merah hanya sebuah fragmen yang sangat mentah dan memerlukan proses pemasakan yang cukup “lama.” Cerita yang dibangun harusnya dapat dikelola lebih rumit dan menantang. Penokohan dapat diperdalam dengan berbagai adaptasi dan penambahan detail yang tidak disediakan oleh puisi aslinya. Sebagai sebuah saduran karya sastra, tentunya sentuhan dramatik harus lebih dominan dan mampu membuat teks puitis menjadi naratif dan punya kekuatan teatrikal yang menarik. Jas Merah ini, harusnya memberikan penutup bagi acara Artium Parthea, tetapi malah terjebak dalam fragmen yang terfragmentasinya sendiri. Sebuah ketidaktuntasan yang patut disayangkan.

Tentu saja, persoalan pertunjukan juga akan dapat diperparah oleh kondisi teknis. Sebagai contoh, penempatan posisi penonton yang tidak terkelola, persoalan lampu, dan persoalan teknis lain terasa cukup mengganggu pertunjukan. Penonton pada pertunjukan pertama didesain berbentuk tapal kuda. Sementara pertunjukan kedua dan ketiga tampaknya tidak didesain untuk penempatan penonton dengan jenis itu. Akibatnya, pertunjukan kedua dan ketiga mengalami jarak yang cukup jauh dengan penontonnya. Ruang kotak di tengah terpaksa dibiarkan kosong. Harusnya, pembawa acara mampu mengondisikan penonton untuk menempati ruang itu sehingga pertunjukan kedua dan ketiga dapat mencapai penyampaian maksimalnya. Sedangkan lampu yang digunakan rasanya terlalu mendongak ke atas sehingga mengurangi ruang permainan aktor. Tembakan cahaya lampu di plafon cukup mengganggu penonton. Persoalan teknis lain adalah operasional musik yang pada beberapa pertunjukan sangat kurang jelas karena kecilnya volume di tengah besarnya Gedung yang digunakan.
Sebagai sebuah perayaan ulang tahun teater, ketiga sajian ini cukup membuat kecewa. Ketiga sajian mentah ini harusnya memerlukan cukup waktu untuk mematangkannya sebelum benar-benar disajiikan. Sehingga, perayaan hari teater dunia ini tidak mengakibatkan sakit perut, atau bahkan muntah.


REFERENSI
Schneider, Rebecca. 2007. The document performance. dalam Manuel Vason. Encounters. Performance, photography, collaborations (editor Dominic Johnson). Bristol: Arnolfini.
Vanhaesebrouck, Karel. 2009. Theatre, performance studies and photography, a history of permanent contamination. Visual Studies 24(2): 97-106.


x